Sunan Giri dan Syekh Siti Jenar

Sunan Giri dan Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar dan Sunan Giri adalah dua nama besar dalam sejarah penyebaran ajaran Islam di Jawa, keduanya dikenal sebagai penyebar agama Islam namun menggunakan pemahaman yang tidak ’sejalan’.

Sejarah mencatat Syekh Siti Jenar sebagai  ‘musuh’ utama  para wali dan kesultanan Demak kala itu, karena ajarannya yang dianggap menyimpang dari ajaran para wali (wali songo).

Syekh Siti Jenar dianggap menyebarkan ajaran sesat, karena menganggap dirinya adalah jelmaan Tuhan sesuai ajarannya Manunggaling Kawula Gusti. Ajaran tersebut merupakan pemahaman tingkat ‘tinggi’ terhadap Ilmu ke-Tuhanan, yang bisa menyesatkan bagi pemeluk agama Islam lainnya.

Menjadi Manusia Unggul

Maklumlah, pada waktu itu, para wali sedang merintis penyebaran  Agama  Islam di tanah Jawa, dimana sebagian besar pemeluk agama Islam adalah masih berstatus ‘pemula’.

Ilmu  Syekh Siti Jenar yang sudah terlalu ‘tinggi’  yaitu sampai kepemahaman Ma’rifat,  dikhawatirkan malah akan menyesatkan, karena sebagian besar pemeluk Islam kala itu masih pada tingkat ‘dasar’ yaitu pemahaman Syariat Islam.

Berikut ini cuplikan dialog antara Syekh Siti Jenar dengan Sunan Giri (salah satu wali songo) yang diceritakan dalam buku Siti Jenar terbitan Tan Koen Swie.

Pedah punapa mbibingung, (Untuk apa membuat bingung)
Ngangelaken ulah ngelmi, (Mempersulit ilmu)
Njeng Sunan Giri ngandika, (Kanjeng Sunan Giri berkata)
Bener kang kaya sireki, (Benar apa yang Syekh Siti Jenar Katakan)
Nanging luwih kaluputan, (Tetapi lebih keliru -kurang tepat-)
Wong wadheh ambuka wadi. (Orang berani membuka rahasia)
Telenge bae pinulung, (Kelihatannya saja menolong)
Pulunge tanpa ling aling, (Pertolongannya tanpa penghalang -tahapan-)
Kurang waskitha ing cipta, (Kurang waspada dalam cipta)
Lunturing ngelmu sajati, (-akan berakibat- Lunturnya ilmu sejati)
Sayekti kanthi nugraha, (Yang seharusnya diberikan sebagai anugerah -kepada yang mereka yang benar-benar telah matang-)
Tan saben wong anampani. (Yang diberikan kepada siapa saja)

Artinya :

Syeh Siti Jenar berkata, Untuk apa kita membuat bingung, untuk apa pula mempersulit ilmu?

Sunan Giri berkata, Benar apa yang anda ucapkan, tetapi anda bersalah besar, karena berani membuka ilmu rahasia secara tidak semestinya.

Hakikat Tuhan langsung diajarkan tanpa ditutup tutupi. Itu tidaklah bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.

Nah, dari cuplikan dialog tsb yang paling menarik bagi saya adalah kalimat terakhir yang berbunyi :

“Tak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.”

Kalimat ini menjadi sangat penting keberadaannya, karena kematangan dalam memahami Tuhan didalam Agama Islam dikenal melalui beberapa tingkatan spiritual yaitu Syari’ah, Thariqah, Haqiqah dan Ma’rifat.

Oleh karena itu, hendaknya kita semua selalu menyadari terhadap diri kita sendiri, sejauh mana dan sampai tingkatan mana pemahaman ke-Tuhanan kita masing masing.

Bila anda salah ‘jalur’, anda akan benar benar ‘tersesat’ di dunia dan akhirat.

Salam.

Sumber : agama.kompasiana.com

About the Author

Makmurkan Masjid, Berdayakan Umat adalah semboyan kami, Majalah Masjid Kita. Kami beralamat di Komplek Masjid Istiqlal Ruang 17-18 Jl Taman Wijaya Kusuma Jakarta Pusat Hubungi kantor kami di 021-3453809 atau 021-3453780