Bangsa Indonesia dianugerahi banyak kenikmatan oleh Allah SWT. Mulai kenikmatan kemerdekaan yang diberkahi Allah, kekayaan alam yang melimpah, pertumbuhan ekonomi, industri, dan perdagangan yang baik, kemajuan pertanian dan teknologi, sosial, politik, keamanan, serta anugerah penduduk muslim yang mayoritas. Tentu semua itu harus disyukuri.
Masih ingat dengan kalimat ‘Pajak alkohol, rokok, masuk jadi satu. Jadi, nila setitik, rusak susu sebelanga,” ujarnya. Begitu pula aparaturnya. Padahal, kata Achmad Subianto, aparatur itu adalah amir, yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.’
Penggerusan akhlak bangsa yang tampak menjadi fenomena akhir-akhir harus disikapi dengan upaya nyata menegakkan agama Allah. Pengajian, majelis taklim, ukhuwah Islamiyah, ketauhidan, dan konsep “jamaah” dalam Islam harus kembali digalakkan. Hal ini dapat dilakukan dengan memfungsikan kembali masjid sebagai pusat kegiatan umat.
Masjid seyogianya bisa menjadi lembaga dakwah plus sarana pengembangan umat. Bagi umat Islam, masjid memiliki makna yang besar dalam kehidupan, baik makna fisik maupun makna spiritual. Pemahaman mengenai masjid harus benar-benar terkait dengan unsur ibadah, sebagai tempat untuk menyatakan ketundukan kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam Quran surah
An-Nuur ayat 36-37: “Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan pada waktu petang..”
Pembangunan masjid juga semata-mata berdasarkan ketakwaan untuk mendapatkan ridla Allah. Melalui kegiatan yang dilakukan di masjid, akhlak dan moral umat ditempa. Setiap saat, minimal lima waktu sehari, umat Islam akan selalu diingatkan dan dijauhkan dari perbuatan maksiat melalui shalat berjamaah di masjid. Apalagi, shalat berjamaah memiliki derajat yang lebih tinggi daripada shalat sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim: ”Shalat berjamaah pahalanya melebihi shalat sendiri dengan 27 derajat.”
Pada saat azan berkumandang, seyogianyalah umat Islam berbondong-bondong menuju masjid untuk memunaikan shalat berjamaah, meninggalkan segala aktivitas yang sedang dilakukan.
Rasulullah SAW pernah bersabda: “Wahai manusia, shalatlah kamu di rumah masing-masing. Sesungguhnya sebaik-baiknya shalat ialah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat yang lima waktu (maka hendaknya di masjid lebih baik)” (H.R. Bukhari dan Muslim).



Ya, patut kita prihatin dengan kondisi umat sekarang ini. Dahulu, masjid adalah pusat informasi, pendidikan, pengembangan ilmu, dan pemerintahan kekhalifahan. Sekarang, kebanyakan masjid hanya berisi orang-orang tua dan itu pun sekadar untuk salat berjamaah. Itu mungkin sebabnya sehingga umat menjadi seperti buih di lautan.
Sejak pertengahan 70′-an saya sadari sekularisasi sudah termakan umat Islam negeri ini. Kita sudah lama meninggalkan masjid dan memperlakukannya seperti gereja bagi umat Kristen: hanya dikunjungi seminggu sekali.
Awal 90-an geliat remaja muslim tumbuh lagi untuk memfungsikan masjid sebagai tempat berkumpul dan berbagi ilmu. Tapi kini itu tiada lagi sebab orang-orang liberalis memunculkan isu bahwa masjid adalah tempat merencanakan teror dan makar religi.
Di sisi lain, ormas-ormas muslim sekarang lebih fokus mendesakkan isu kebangkitan khilafah justru hanya dari sisi konstitusi, bukannya menghidupkan dulu sunah dan memakmurkan masjid dengan program-program yang mencerdaskan umat.
Selama umat Islam masih diombang-ambing seperti ini, pembentukan khilafah macam apa pun akan lebih banyak mudaratnya. Sebab ia tidak dimulai dengan sebagaimana mestinya. Jadi, tak ada jaminan bahwa khilafah “cabang” Indonesia kelak lebih bersih daripada kepemimpinan sekular seperti sekarang ini. Allahua’lam.
Mudah-mudahan blog ini dan program-program Majalah Masjid Kita menjadi salah satu agen kebangkitan umat menyongsong tantangan akhir zaman ini. Amin.
sependapat jug a dgn muxlimo dahulu mesjid selain sbg tempat ibadah juga di fungsikan sbg kegiatan musyawarah,, tp sekarang kondisi ini makin terus berkurang akibat sdh berkurang nya rasa peduli dan umat muslim sendiri ,,gak tau juga ntah mengapa ini terjadi ,, makin maju perkembangan jaman,, makin byk pengaruh2 luar juga yg membuat keimanan runtuh..
Yuk kita kembali ke Sunnah saja. Kita buka lagi kitab2 jaman kita masih sekolah di ibtida’iyah dulu tentang fungsi dan cara memakmurkan masjid. Buka lagi pelajaran Agama tentang sejarah Rasulullah sewaktu SD dulu, bagaimana Beliau memfungsikan masjid. Kita jalankan itu saja. Atau setidaknya baca postingan yang sedang saya komentari ini saja sudah cukup bisa memakmurkan masjid. Cukup memulainya dari diri pribadi kita sendiri dulu. Insya Allah jika kita melakukan ini karena Allah, pastinya tidak akan terjadi seperti yang sobat MUXLIMO diatas tulis.
Mari kita memulainya dari diri sendiri. Tidak perlu harus harus membentuk model yg macam2 seperti khilafah, ormas, anti sekulerisme, anti liberalisme atau apalah yg amat sangat gak penting. Cukup satu identitasnya, “Saya Orang Islam” dan saya cuma berpegang kepada Qur’an dan hadits. Moga dengan begitu Penggerusan Akhlak Bangsa ini akan bisa diminimalisir…Nice post and happy blogging!
ahlak bangsa kita memang sudah hancur mas,,
apalgi dtambah dengan tayangan tayangan film yg ga bermutu dan mengumbar aurat,
makin parah aja nih moral bangsa indo,
kejahatan mkin bnyak,pmerkosaan main bnyak,
ckccckk
turut perihatin atas hancurnya bangsa ini oleh generasi muda jaman sekarang.
turut prihatin juga atas bangsa lain yang ingin menghancurkan moral dan reputasi dalam negara seperti film gak bermutu yang mengumbar aurat dll.
astaghfirullahaladzim. hmm.. aku setuju sama pendapatnya skaruji dot com di atas. nice post! semoga bisa jadi renungan kita semua, tentang bobroknya negeri ini.
andai saja saya superman yg bisa mengubah segalanya, sayang saya cuma bisa doa
Saya malu, karena kesibukan sekarang ini jadi agak jarang pergi kemesjid. Lebih sering sholat mushola atau di rumah. hihihi…
I in addition to my budides happened to be digesting the superb points located on your internet web site and then all with the sudden I had an awful feeling I never expressed respect towards the website owner for them. All the males were definitely thrilled to read by means of them and have now in truth been having enjoyable with them. Thank you for really being indeed kind and then for obtaining this kind of exceptional valuable guides most people are actually desperate to know about. My honest regret for not expressing appreciation to earlier.
Masih menanggapi komentar Muxlimo di atas, saya sangat setuju sekali. Masjid sekarang ini cenderung hanya pemanis di satu komunitas saja, sebatas ‘ada’ untuk menunjukkan bahwa warga di situ punya agama yg mayoritas muslim. Sedang fungsinya ya paling banter – selain untuk shalat berjamaah – untuk pengumpulan zakat.
Saya justru kagum setiap melihat ada segelintir dari generasi muda kita yg mau memakmurkan masjid dengan membuka TPA dan mendidik akhlak anak2 sejak dini. Dan itu lebih besar manfaatnya daripada bergerombol, berdemo serta cenderung berbuat anarkis. Memang itu untuk perjuangan. Tapi jika berfikir lebih cerdas, perjuangan tak selalu mengandalkan otot. Ada perjuangan yg lebih halus namun mampu meledak pada waktunya nanti. Itulah perjuangan untuk mendidik ahlak agar terlahir generasi2 unggul di masa datang.
Masalah sekularisme, penggerusan akhlak dan krisis multi-dimensi yang sedang kita alami adalah sebuah sunatullah. Kita mau tak mau harus menghadapi ini. Tinggal kitanya saja, mau mengikuti arus atau melakukan perubahan dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan mulai sekarang juga. Dan memakmurkan mesjid adalah salah satu solusinya.
Wallahualam.
benar sekali masjid yang seharusnya menjadi lembaga dakwah plus sarana pengembangan umat, saat ini sudah seperti jarang sekali terlihat, kebanyakan mesjid sekarang sepi2 saja
jadi tergugah hatiku untuk sholat berjamaah di masjid dan ga malas lagi
sungguh artikell yg membuat sejuk langkah untuk beribadah
trimakasih….
alhamdulillah, meskipun cuma satu kali dalam sehari, saya selalu menyempatkan diri untuk bisa shalat di masjid mas.. dan rasanya juga shalat jauh lebih tenang dan khusyu’ kalo bisa shalat berjama’ah di dalam masjid..
Yeah, pajak rokok & alkohol yang biasa disebut cukai, sering diistilahkan sebagai ‘pajak dosa’. Hahaha iya kalau dosanya ga dianggep…
Nice post masss…
miris aku lihat dijalan-jalan raya banyak masjid besar dan megah tapi sepi jamaah sedangkan masjid yang kecil memiliki jamaah yg lumayan banyak
sekarang orang muslim malah dianggap teroris, padahal yang teroris adalah orang yang imannya sangat kurang. miris
kemerosotan akhlaq agaknya sudah melanda segala bidang
inikah tanda-tanda kehancuran
naudzubillah
sunggu sangat mengenaskan situasi dewasa ini
habis sudah generasi bangsa yang berakhlak
Kunjungan Sore
Sundul gan………… dah banyak komenya….. ditunggu kunjungan baliknya……