“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu…. (QS. An-Nisa’ : 36-37).
Suami adalah seorang lelaki sekaligus kepala keluarga. Berbicara tentang keluarga paling tidak sebuah keluarga terdiri dari seorang kepala keluarga yakni seorang suami dan seorang isteri. Bisa jadi sebuah keluarga ditambah dengan beberapa orang anak. Inilah yang masyhur dalam benak setiap orang ketika dia mendengar kata ‘keluarga’ disebutkan orang kepadanya. Dengan demikian, tertanamlah dalam benak setiap orang bahwa keluarga adalah suami, isteri, dan anak. Demikianlah lazimnya selama ini.
Benarkah keluarga hanya terdiri dari tiga anggota seperti yang disebutkan di atas? Dalam Islam, yang disebut keluarga lebih lebar dari itu. Ayah dan ibu sang suami termasuk di dalamnya, bahkan memperoleh porsi yang lebih utama dan lebih luas. Hal ini sering terabaikan bahkan terlupakan sama sekali akibat persepsi yang salah tentang arti keluarga selama ini. Sehingga seorang suami hanya merasa berkewajiban menghidupi isteri dan anak-anaknya saja. Ketika keperluan pokok bagi isteri dan anak telah terpenuhi, sang suami mulai menumpuk harta sebagai investasi masa depan bagi isteri dan anak-anaknya. Sedangkan kedua orangtua kalaupun disantuni hanya terbatas pada saat-saat tertentu seperti saat lebaran tiba dua kali dalam setahun. Tragis, bukan..?
Sebenarnya bagi seorang suami kedua orang tua jauh lebih wajib dan mesti didahulukan daripada isteri dan anak kandung. Hal ini tergambar dalam hadis Nabi yang berbunyi: “Ridha Allah tergantung kepada ridha orang tua.” Artinya setinggi dan sebanyak apapun amal seorang lelaki terhadap Allah swt, akan menjadi rusak binasa jika orang itu menyia-nyiakan orangtuanya, yang menyebabkan dia tercatat sebagai anak durhaka.
Isteri dan anak memang wajib dinafkahi oleh seorang suami, namun ibu dan bapaknya lebih wajib dinafkahi. Sebuah hadis Nabi secara nyata menjelaskan hal ini. Hadis itu berbunyi, “Dari Aisyah ra berkata dia, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulallah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita? Beliau menjawab: “Suami wanita itu.” Aku bertanya lagi: “Siapakah yang paling besar haknya atas seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab: “Ibu laki-laki itu.” (HR. Imam Hakim, dalam kitab Al Mustadrak jilid 4 halaman 150).
Jelas sekali, seorang laki-laki yang telah menjadi seorang suami lebih wajib menyelesaikan urusan keperluan sang ibu baru lelaki itu berkewajiban menyelesaikan urusan sang isteri. Tentu saja tidak berarti karena mengurus sang ibu, lelaki itu lantas menyia-nyiakan isterinya. Masing-masing memiliki hak yang wajib ditunaikan secara ma’ruf (baik).
Dalam hadis yang lain, seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak memperoleh pelayanan dariku?” Rasulullah menjawab, “Ibumu… Ibumu… kemudian Ibumu, kemudian bapakmu, kemudian yang lebih dekat kepadamu (isteri dan anak), kemudian yang lebih dekat kepadamu (kaum kerabat).” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim)
Demikian mulianya Islam meletakkan tanggung jawab kepada seorang suami. Hak-hak mereka secara rapi dan berurutan telah dijelaskan oleh Rasulullah saw di dalam hadis-hadisnya yang mulia. Jika diurutkan kewajiban seorang suami dalam Islam adalah sebagai berikut; 1. Mengurus ibu, 2. Mengurus bapak, 3. Mengurus Isteri dan anak, 4. Mengurus kerabat. Subhanallah…
Karena ketidaktahuan kaum muslimin atas ajaran Islam, kadang-kadang seorang isteri merasa kedua mertuanya (orangtua sang suami) adalah saingannya dalam memperebutkan pelayanan dan harta serta kasih sayang dari sang suami. Kemudian karena ketamakan yang tumbuh di hati sang isteri tersebut, dia akan meradang jika kedua mertuanya bertindak sedikit saja mengambil harta suaminya. Seolah-olah kedua mertuanya ‘merampas’ sesuatu yang semestinya menjadi bagian dan miliknya sendiri. Padahal jika sekedar makan dan pakaian tidaklah perlu menjadi perhitungan bagi sang isteri itu.
Betapa besarnya hak orangtua terhadap seorang anak lelakinya meskipun anaknya tersebut telah menjadi seorang kepala keluarga. Benar, menafkahi isteri dan anak merupakan kewajiban seorang suami dalam Islam, namun kewajiban itu tidak mesti menghilangkan kewajiban sang suami terhadap kedua orangtuanya. Bagaimanapun, keduanya dapat berjalan beriringan tanpa mesti satu dan lainnya dipertentangkan.
Kedua orangtua diurus secara baik dan akan menjadikannya sebagai sebuah amal yang mulia di dunia serta menjadi ‘tiket’ untuk masuk ke surga Allah di akhirat kelak. Sementara isteri dan anak juga merupakan lumbung pahala bagi seorang suami. Apalagi Rasul telah berjanji bahwa seorang suami yang bersedekah kepada anak dan isterinya, akan mendapatkan pahala dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan sedekahnya kepada fakir miskin.
Jika setiap suami menyadari bahwa menafkahi kedua orangtuanya merupakan ‘tiket’ untuk masuk surga, pastilah lelaki itu akan bersusah payah mendapatkan ‘tiket’ surga itu. Hatinya akan senang riang dan gembira untuk mengeluarkan sebagian dari harta miliknya, kepada kedua orangtuanya. Sebaliknya, sang isteri jika benar mencintai suaminya dengan tulus pastilah isteri tersebut akan sangat gembira pula melihat suaminya membeli tiket ke surga. Mustahil seorang isteri mengatakan cinta kepada suaminya tetapi dalam kehidupan sehari-hari sang isteri secara mati-matian mencoba menghalangi sang suami yang hendak membeli ‘tiket’ ke surga. Dalam hal ini, berupa pelayanan kepada ibu-bapaknya.
Dan jika suami-isteri telah menyadari bahwa menyantuni orangtua, merawat serta menafkahi mereka adalah kewajiban dari Allah dan sekaligus tiket masuk surga, manalah mungkin keduanya sampai hati ‘bermain kucing-kucingan’ berusaha menyembunyikan hartanya dari kedua orangtua mereka agar kedua orangtua mereka itu tidak punya kesempatan meminta harta mereka.
Menyembunyikan harta dari kedua orangtua, atau dalam istilah yang popular sekarang ini ‘berpura-pura miskin’ adalah sebuah tindakan bodoh dan dimurkai Allah. Bodoh karena membakar tiket ke surga; dimurkai Allah karena sebuah tindakan kufur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah melalui kedua orangtuanya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “…Menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka…” (surah An Nisa’ ayat 37).



terima ksh udh memberi tauku akan hal ini, ini sangat bermanfaat skali terutama utkku yg skrg udh menjadi sorg kpala kluarga.
selamat mas karena sudah menjadi seorang ayah…
tq pencerahannya bro, entar diterapin klu dah nikah..amiiin
gpp mas gak perlu nunggu nikahpun sebenernya bisa :p
benar sekali sob
suami adalah kepala keluarga dan mempunyai tanggung jawab penuh terhadap anak dan istrinya
oleh karenanyalah seorang suami harus bisa menjadi teladan buat keluarganya
Khusus untuk Wize.Com, baru tadi saya tahu jika ada persyaratan yang mekataynan bahwa jika kita pernah mengerjakan sebuah review untuk Wize dalam 6 bulan terakhir, maka kita tidak berhak untuk mengambil grab task yang tesedia. Jika tetap ngotot mengambil grab task tersebut, maka konsekuansinya ya itu: di reject tanpa ampun.Soalnya saya baru inget klo saya pernah ngambil task untuk Wize baru 3 bulan yang lalu.
benar juga kalo sang suami harus lebih mendahulukan orang tuanya ketimbang anak dan istrinya
pada banyak kasus, demikianlah adanya mas…
karena orang tua tetaplah orang tua, org yg mendapat
keutamaan dari anak2nya. (seharusnya…)
salam sobat…
suami wajib memberi nafkah keluarga
betul mas… tapi bagaimana dengan kasus sebaliknya,
yakni sang istri lah sebagai penunjang keluarga???
peran suami???
wajib memberi nafkah lahir batin
d’accord!
Pakdeeeee..kok kita sehati yaaaa sama2 pgaeegmnr arloji guedhe!saya hanya punya 3 dan saya suka semuanyaaananti kl kita kodar, kita ukur yok, gedean jam siapa kira2..[WORDPRESS HASHCASH] The poster sent us ’0 which is not a hashcash value.oke aku tak mbawa jam yang paling ngetOp gedenya
salam,
semoga bisa saia jalankan kalau sudahmenikah. amin
terimakasih tauziyahnya
sama-sama mas, senang bisa berbagi di sini
jd pengen nikah nie aku…………..
hahaha.. cepet-cepet mas, keburu nazi dateng lagi :p
: ongkos kirim diatggnung bersama, karna daerah anda diluar zona bebas ongkos kirim, dan untuk harga setiap pemesanan minimal 6lusin mendapatkan potongan khusus, silahkan via sms untuk menjadi agen silahkan ketik : agen#nama#minyak angin aromatherapy#kotaKirim Kirim : 081253187327Silakan tunggu balasan !
insya Allah diterapkan ketika dah nikah
insya allah
kesimpulannya, kalau sudah berkeluarga jangan lupa ayah dan ibu
ini saya paling setuju
linknya udah dipasang gan, oh..ya.., setuju dengan artikel ini ‘ Kewajiban Seorang Suami ‘. Kita tidak bisa memandang hanya pada satu sisi kepentingan. jadi harus total. thanks for sharing
begitulah mas, karena tiap permasalahan tentunya memiliki banyak sudut pandang, dan kita dalam menyikapinya, alangkah lebih baik jika tidak hanya dari satu perspektif belaka
aq sayang kedua orang tuaku
terlebih lagi saya mas
cocok sekali bacaan ini buat para suami dan calon suami tentunya
amien
Alhamdulillah dah seengah tahun saya menjadi suami
dan nama perempuan yang saya ukir di pasir pantai itu adalah istri saya
mohon doanya agar menjadi suami yg baik
pastinya mas, ooo itu istrinya tokh.. ya mas, semoga langgeng, temen2 blogger juga pasti turut mendoakan mas
huhh perlu perenungan nih!!!!
pelan-pelan mas :p
wah, bisa disimpen nich buat suamiku kelak
bener mba’…. silahkan saja
dalem banget…
susah mas ya kalau kitanya gak bisa berenang,,, loh… dalem tokh?!?!? :p
Makasih Pencerahannya bro
Bermanfaat banget
Salam
sama-sama mas, semoga terus bisa saling memberi manfaat buat temen blogger semua
Na’udzubillahiminzalik… Semoga aku dilindungi Allah dari sifat tamak terhadap harta suamiku… Amiiinnn..
setuju, bahaya tuh mba’… amien
berat banget jadinya kalo jadi suami….
ya terlebih sang istri mas.. :p
sama-sama tokh, ringan sama di jinjing
berat urusin saja sendiri… lohhh
Kita sebagai laki-laki/ suami wajib menafkahi lahir dan batin buat istri dan dapat menjadi pemimpin dalam rumha tangga dan mampu mmebinah keluarga kejalan yang benar….
nahhh ini dia profil lelaki idaman :p
jadi pengen lekas menjadi seorang suami, he he he. Salam kenal.
lekaslah mas… :p salam kenal juga
terimakasih sudah sudi mampir mas…
wah ini pelajaran yg baik kalo dah punya isri
perlakukan istrimu dengan baik, jadikan ia ratu -mu dsb dll dst bla bla bla :p
Subhanalloh…..,referensi yang sangat Indah bagi seorang calon suami seperti saya.
sukses mas kalau gitu buat pernikahannya
undangannya mana?
Saya mau mengikuti kontes para blog para pelajar saya mohon dukungannya bukan sekedar doa saja namun sebuah kommentar agar blog saya mudah terindeks di panitianya
saya mohon komentar di link di bawah ini
http://www.ilham-am.co.cc/2010/12/kompetisi-web-kompas-muda-aqua.html
Moga2 saya sukses ya and artikel sobat sangat menarik semua.,.,.,.,!!!
meluncur ke tekape mas
keren boz….
….
apanya?
woww.. mudah-mudahan jika nanti Saya memiliki istri
, saya menjadi suami yang taat akan kewajiban.. amin *malu-malu*
pria dianalogikan seperti kerang yang sangat menutup diri dan hanya membuka diri ketika sedang aman, tapi di dalamnya tersimpan mutiara yang berharga.. sedangkan wanita seperti linggis, yang selalu dengan tak sabar ingin membuka kerang untuk membagi diri (menurut wanita, kedekatan berarti banyak bicara, banyak cerita yang dibagi)…
mas mantab postingannya.. btw link yang mas pasang untuk saya untuk tukar link salah yang tepat. di nama saya itu mas.. rodes2008
link telah saya perbaiki mas
terimakasih atas kesabarannya
Assalamualaikum….
Hiks…hiks…hiks…,tak terasa air mataku menetes juga saat membaca artikel ini.
Saat ini usia pernikahan saya baru 1 bulan dg istri saya.Sebelum saya menikah…ke 2 orang tua & 2 adik saya menjadi tanggungan saya (adik saya yg cewek usia 20 th terkena stroke…minta doanya ya?biar cepet sembuh)
Kini setelah menikah…saya msh menafkahi orang tua saya & adik saya walaupun tidak setiap hari sprti dulu.Dengan adanya artikel ini membuat saya sangat malu sama Allah…,bagaimana saya mau dapat tiket ke surga kalau ternyata tiketnya saya sia siakan?
Ya …Allah…,mohon ampuni hambamu ini….
Terima Kasih buat Artikelnya ini…sekali lagi …terima kasih…smoga bermanfaat buat semuanya…dan saya mohon doa fari saudara2ku sesama muslim agar saya mampu melewati kehidupan ini.
Buat yg pengen kenal lbh dekat sama saya…bisa melalui email / YM saya di : jo.benjo@yahoo.co.id
Wassalam
alhamdulillah mas, bisa menafkahi keluarga termasuk ke2 orang tua adalah merupakan impian tiap anak yang berbakti tentunya.. membaca pesan sampeyan, saya sampai tidak tahu mesti berkomentar apa.. yang jelas, kami turut mendoakan agar strokenya bisa segera di angkat oleh Allah swt.. amin
boleh gw bawa ke teman gw di fb ya. TQ tuk informasinya yaq. btw this is kunjungan pertama kali sampai blog ini
selamat datang kalau begitu.. terimakasih utk sudi berkomentar di sini
silahkan saja di bawa kemanapun asal membawa mashlahat tuk kita semua, amien
You are professional.
thank you for your nice word
kalau masalahnya suami itu malah bergantung pada mertuanya ( orang tua dari istri ) di karenakan gaji suami buat makan sehari hari saja tidak cukup. apa diwajibkan juga suami menafkahi orang tuanya !????
Saya ingin bertanya..bagaimana hukumnya ketika suami tidak bisa mencukupi anak dan istrinya sementara kewajibannya ke kedua orangtuanya selalu dilaksanakan…
Saya adalah seorang istri dari suami saya yang kebetulan anak pertama dari orangtuanya.suami saya selalu memenuhi kewajibannya terhadap orangtuanya seperti uang bulanan.pada awal pernikahan saya masih kuliah tingkat akhir sementara suami sering dinas keluar kota dengan gaji ♈ǝлƍ pas-pasan.ketika orang tuanya meminta uang langsung ke suami..tidak pernah ke saya. Saya paham kondisi mertua saya ♈ǝлƍ hanya seorang supir taksi sedangkan ibu mertua saya hanya ibu rumah tangga..tetapi dia memiliki adik seorang laki-laki juga ♈ǝлƍ tidak pernah memberi uang bulanan seperti suami sya.berapa pun orang tuanya minta suami saya langsung kirim,padahal disaat itu uang bulanan juga dikirim..saya mencoba mengalah.setiap bulanannya suami saya mengirim uang bulanan 1 juta ke mertua saya..sedangkan saya hanya 200ribu..itu pun belum dipotong listrik.jadi sebulan saya hanya dikasih 150ribu..akhirnya orang tua saya membantu saya untuk mengirim uang bulanan.karena orang tua memikirkan cukup apa tinggal di jakarta dengan hanya 150ribu saja per bulan.dan suami itu tahu.ketika suami tidak dinas dia memberi uang untuk makan.tapi ketika dinas,suami tidak memberi pegangan apapun..sampai akhirnya orang tua membantu membelikan rumah untuk kami berdua dengan harapan uang ♈ǝлƍ tadinya untuk kontrak rumah bisa saya simpan.orang tua saya tidak mempermasalhkan.jadi intinya penghasilan dari gaji dan uang dinas banyak ke mertua..
Tadinya saya tidak mempermasalahkan keadaan ini,setelah saya mendapatkan pekerjaan,setidaknya bisa punya pegangan uang.saya terus mencoba utk menjadi istri ♈ǝлƍ patuh pada suami.ketika keinginan mertua saya memperbaiki rumahnya,akhirnya suami pontang panting kerja siang malam.sampai lupa istirahat,dan hanya tidur 1-2 jam.sehingga melalaikan kewajiban dy sebagai suami terhadap istrinya selama 6 bulan.saya masih mencoba mengerti tapi disisi lain saya kasihan karena begitu letih dy bekerja demi orang tuanya.sampai dy sakit orangtuanya tidak tahu.tapi ketika uang ♈ǝлƍ diminta telah tercukupi ♈ǝлƍ buat saya jengkel dengan suami.suami tidak mengatakannya,saya marah karena saya merasa tidak dihargai baik dari suami maupun mertua.saya tegur suami saya..karena menurut saya tindakan mengirim uang tanpa sepengetahuan istri itu tidak baik.
Setelah 3 tahun menikah,saya dan suami mendapat anak..saya dan suami sangat senang dan saya memutuskan untuk berhenti kerja..tetapi lagi2 saya sebagai istri harus menerima kenyataan pahit..ketika bapak mertua saya tidak mengharapkan cucu laki2 dan itu diutarakan didepan saya dan orang tua saya..orang tua saya jelas sangat marah karena dari awal menikah orang tua saya banyak berkorban dari materi sampai inmateri.sampai suatu waktu anak saya tidak mendapatkan nafkah dari ayah kandungnya sendiri..sementara ke orangtuanya dia menafkahi..saya marah dengan suami karena selama ini dirinya membantu dan menuruti orangtuanya tapi haruskah saya dan anak saya ♈ǝлƍ terus2an mendapatkan perlakuan ♈ǝлƍ tidak adil..
Saya ingin tanya hukumnya itu bagaimana kewajiban suami atas anak-istrinya sementara orangtua saya ikut menafkahi saya dan anak saya..mohon bantuannya…
Saya ingin bertanya..bagaimana hukumnya ketika suami tidak bisa mencukupi anak dan istrinya sementara kewajibannya ke kedua orangtuanya selalu dilaksanakan…
Saya adalah seorang istri dari suami saya yang kebetulan anak pertama dari orangtuanya.suami saya selalu memenuhi kewajibannya terhadap orangtuanya seperti uang bulanan.pada awal pernikahan saya masih kuliah tingkat akhir sementara suami sering dinas keluar kota dengan gaji ♈ǝлƍ pas-pasan.ketika orang tuanya meminta uang langsung ke suami..tidak pernah ke saya. Saya paham kondisi mertua saya ♈ǝлƍ hanya seorang supir taksi sedangkan ibu mertua saya hanya ibu rumah tangga..tetapi dia memiliki adik seorang laki-laki juga ♈ǝлƍ tidak pernah memberi uang bulanan seperti suami sya.berapa pun orang tuanya minta suami saya langsung kirim,padahal disaat itu uang bulanan juga dikirim..saya mencoba mengalah.setiap bulanannya suami saya mengirim uang bulanan 1 juta ke mertua saya..sedangkan saya hanya 200ribu..itu pun belum dipotong listrik.jadi sebulan saya hanya dikasih 150ribu..akhirnya orang tua saya membantu saya untuk mengirim uang bulanan.karena orang tua memikirkan cukup apa tinggal di jakarta dengan hanya 150ribu saja per bulan.dan suami itu tahu.ketika suami tidak dinas dia memberi uang untuk makan.tapi ketika dinas,suami tidak memberi pegangan apapun..sampai akhirnya orang tua membantu membelikan rumah untuk kami berdua dengan harapan uang ♈ǝлƍ tadinya untuk kontrak rumah bisa saya simpan.orang tua saya tidak mempermasalhkan.jadi intinya penghasilan dari gaji dan uang dinas banyak ke mertua..
Tadinya saya tidak mempermasalahkan keadaan ini,setelah saya mendapatkan pekerjaan,setidaknya bisa punya pegangan uang.saya terus mencoba utk menjadi istri ♈ǝлƍ patuh pada suami.ketika keinginan mertua saya memperbaiki rumahnya,akhirnya suami pontang panting kerja siang malam.sampai lupa istirahat,dan hanya tidur 1-2 jam.sehingga melalaikan kewajiban dy sebagai suami terhadap istrinya selama 6 bulan.saya masih mencoba mengerti tapi disisi lain saya kasihan karena begitu letih dy bekerja demi orang tuanya.sampai dy sakit orangtuanya tidak tahu.tapi ketika uang ♈ǝлƍ diminta telah tercukupi ♈ǝлƍ buat saya jengkel dengan suami.suami tidak mengatakannya,saya marah karena saya merasa tidak dihargai baik dari suami maupun mertua.saya tegur suami saya..karena menurut saya tindakan mengirim uang tanpa sepengetahuan istri itu tidak baik.
Setelah 3 tahun menikah,saya dan suami mendapat anak..saya dan suami sangat senang dan saya memutuskan untuk berhenti kerja..tetapi lagi2 saya sebagai istri harus menerima kenyataan pahit..ketika bapak mertua saya tidak mengharapkan cucu laki2 dan itu diutarakan didepan saya dan orang tua saya..orang tua saya jelas sangat marah karena dari awal menikah orang tua saya banyak berkorban dari materi sampai inmateri.sampai suatu waktu anak saya tidak mendapatkan nafkah dari ayah kandungnya sendiri..sementara ke orangtuanya dia menafkahi..saya marah dengan suami karena selama ini dirinya membantu dan menuruti orangtuanya tapi haruskah saya dan anak saya ♈ǝлƍ terus2an mendapatkan perlakuan ♈ǝлƍ tidak adil..
Saya ingin tanya hukumnya itu bagaimana kewajiban suami atas anak-istrinya sementara orangtua saya ikut menafkahi saya dan anak saya..mohon bantuannya…
On March The year of 2010, Sarah Malanie Perera was initially busted on Sri Lanka theoretically regarding crafting a manuscript throughout Sinhalese that will belittled Buddhism, Christianity, as well as Hinduism. Milliseconds. Perera is known as a end up Islam right from Buddhism. In a very world that will figures escape with concept your sweetheart won’t and will not are in jail and censored men and women that don’t including the things this girl authored/stated would definitely ignored or provide controversies from just what your lady created (just as many people disappointed as a result of Southwest Park won’t keep an eye on that).
Диета – особенный склад питания, раньше диеты в основном применялись присутствие определенных заболеваниях (лечебные диеты), сейчас близко словом способ в большинстве случаев подразумевают питание ради коррекции массы тела и фигуры (порядок ради похудения, реже – чтобы набора веса). На сайте мы собираем самые [URL=http://staticdiet.ru]диета 30[/URL]
: для здоровья и ради похудения. Однако не менее важны для тех, кто задумался, якобы исхудалый, рекомендации, советы и отзывы о диетах помощью тех, который уже опробовал методики и добился успеха, смог рождать бесполезный вес. Тем же, чтобы кого правильное жалованье – здоровая план, пригодится информация о полезных свойствах продуктов. Причина
maaf mau nanya kalau orangtuanya itu orang yang berkecukupan sedangkan istri dan anak hanya mengantungkan hidup pada suami sedang suami hanya bergajikan pas pasan apa tetap menafkahi orangtua,kan ngk mungkin<selama orang tua berkecukupan dan mampu ,kewajipan fokus pada anak istri yang lebih membutuhkan tapi tidak juga mengurangi rasa hormat pada orangtua
Kalo menurut saya sih, suami wajib bertanggung jawab terhadap isteri dan anak2nya, tetapi tetap menyayangi&bersiloaturahmi dgn ibunya. kalo ibu ada yang nafkahi kan suaminya (ayah kita)..hehe bagi tugas laah,, biar financial terutama lebih ringan.. (y)
Kalo menurut saya sih, suami wajib bertanggung jawab terhadap isteri dan anak2nya, tetapi tetap menyayangi&bersiloaturahmi dgn ibunya. kalo ibu ada yang nafkahi kan suaminya (ayah kita)..hehe bagi tugas laah,, biar financial terutama lebih ringan..
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya”
(Qs al-Isra’ : 23)
Dalam berbakti, kadang timbul kebingungan, mana yang harus didahulukan, tetapi bila keimanan adalah landasan, semua menjadi jelas. mahabah dan mawadah kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad fi sabilillah adalah prioritas pertama. Setelah itu, yang menempati prioritas paling utama di dunia adalah orang tua. Birrul walidain adalah wujud ketaatan dan kecintaan seseorang kepada Allah dan RasulNya. Ketika prioritas itu dilandasi mahabatullah, ikhlas meraih ridhaNya, Allah tidak akan menyia-nyiakan amalannya, dikabulkan do’anya, dan dimudahkan urusannya.
Dari Abu Hurairah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak kubaktikan dengan baik?” Rasul menjawab, “Ibumu”, jawab Rasul, “Lalu siapa lagi?”, “Ibumu”, jawab Rasul. “Kemudian siapa?” Rasul menjawab, “Ibumu,” Ia kembali bertanya, “Lantas siapa lagi?” Rasul menjawab, “Ayahmu”
(HR Bukhari-Muslim)
Dalam berbakti, Allah dan Rasul mengutamakan ibu atas ayah. Mengapa bakti ibu lebih utama? Islam memberikan penghormatan karena kedekatan perasaan ibu terhadap anaknya. ibu lebih baik dalam merawat dan mengasuh anaknya daripada seorang ayah. Bentuk lain penghormatan agung terhadap ibu adalah ibu (perempuan) lebih berhak atas anak laki-lakinya, meski ia telah menikah.
Dari ‘Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW “Siapakah yang paling berhak atas seorang wanita?” Rasul menjawab, “Suaminya.” “Dan siapa yang paling berhak atas suami?”. Rasul menjawab “Ibunya”
(HR Hakim dan al-Bazzar, hadits hasan)
ga usah nkah aj kalo kyk gt, kan orang tua lebh penting dr pd istri n anak,dr pd menyiayiakan anak org. Ga adil donk untk seorang istri,smpat nanti anakx permpuan smua,kpan d0nk seorg istri dpt keadilan
Kalau begitu sungguh prihatin ya nasib seorang Istri, apa2 yg didahulukan orang tua, padahal kita sudah berjuang antara hidup dan mati melahirkan anak2nya… dan beruntunglah istri yg memiliki suami cerdas, bijak dan punya hati yg tetap memperhatikan dan menafkahi istri dan anak2 dgn baik.. Subhanallah.. semoga laki2 macam itu akan mendapatkan tempat yg baik disisi Allah karena tidak menyia2kan istri dan anak2nya demi orang tua yg msh berkecukupan.
cerdas
“Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik melayani isterinya”. (Riwayat At-Tirmizi) اللّهُ.itu maha adil dan ini bisa kita lihat pd hadist riwayat At-Tirmizi di atas. Dan berikut saya copas dr situs yg pernah saya baca (maaf utk alamat situs lupa) yg sekiranya bisa mjd tambahan dan masukan ttg pro kontra permasalah adil bagi suami dr sudut pandang Islam.
Notes berikut merupakan bahan referensi dan renungan bahkan tindakan, garis besar hak masing-masing dan kewajiban SUAMI-ISTRI (PASUTRI) dalam Islam yang di nukil dari buku “Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari Lengkap” karangan H.A. Abdurrahman Ahmad.
HAK BERSAMA SUAMI ISTRI
1. Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
2. Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 – Al-Hujuraat: 10)
3. Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
4. Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)
SUAMI KEPADA ISTRI
1. Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
2. Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah clan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
3. Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
4. Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
5. Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
6. Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
7. Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
8. Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
9. Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)
10. Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)
11. Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)
12. Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).
13. Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)
14. Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)
15. Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)
16. Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)
17. Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)
18. Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)
ISTRI KEPADA SUAMI
1. Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)
2. Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
3. Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
4. Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah: a. Menyerahkan dirinya, b. Mentaati suami, c. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya, d. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami, e. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
5. Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
6. Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
7. Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
8. Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
9. Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)
10. Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)
11. Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)
12. Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)
13. Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)
14. Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)
15. Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)
ISTRI SHOLEHAH
1. Apabila’ seorang istri, menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramddhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya Allah swt. akan memasukkannya ke dalam surga. (Ibnu Hibban)
2. Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah. (Al-Ahzab : 33)
3. Istri sebaiknya melaksanakan shalat lima waktu di dalam rumahnya. Sehingga terjaga dari fitnah. Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid, dan shalatnya wanita di kamarnya lebih utama daripada shalat di dalam rumahnya. (lbnu Hibban)
4. Hendaknya menjadikan istri-istri Rasulullah saw. sebagai tauladan utama.
Semoga catatan ini dapat memberikan manfaat dan wawasan “indahnya berumah tangga” dalam Islam…. Amiin.
Baru tau Saya kalo menjadi suami tanggung jawabnya sangat besar.
Terimakasih ilmunnya
Dan disyaratkan kewajiban menafkahi ini adalah kelapangan rizki si munfik (anak) dan kesulitan yang dialami orang tua dan butuhnya ia kepada nafkah tersebut. (Lihat: Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah: 39/22)
Jika kondisi anak miskin maka ia tidak berkewajiban memberikan nafkah kepada orang tuanya atau orang terdekatnya.
Ibnu Qudamah di dalam Al-Mughni (9/258) menjelaskan tentang adanya tiga syarat dalam kewajiban nafkah ini: Pertama, orang yang dinafkahi (orang tua) adalah orang miskin yang tidak memiliki harta dan pekerjaan yang mencukupkannya dari mengharapkan nafkah orang lain. Sebaliknya, jika orang tua punya banyak harta atau pekerjaan yang mencukupinya maka ia tidak wajib diberi nafkah. Karena nafkah ini sebagai bentuk bantuan, sedangkan orang yang banyak harta tidak butuh kepada bantuan.
Kedua, orang yang wajib menafkahi telah berkecukupan untuk menafkahi dirinya sendiri; baik dari hartanya atau pekerjaannya. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta yang lebih maka ia tak berkewajiban sama sekali. Hal ini berdasarkan hadits shahih riwayat Jabir, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فَقِيرًا فَلْيَبْدَأْ بِنَفْسِهِ فَإِنْ كَانَ فِيهَا فَضْلٌ فَعَلَى عِيَالِهِ فَإِنْ كَانَ فِيهَا فَضْلٌ فَعَلَى ذِى قَرَابَتِهِ
“Apabila salah seorang kalian miskin maka hendaklah ia mulai dari disrinya sendiri. Jika telah lebih maka atas keluarganya. Jika masih ada lebihnya maka kepada kerabat dekatnya.” (HR. Abu Dawud)
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, ada seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata: Ya Rasulullah, aku punya beberapa dinar. Beliau bersabda: sedekahkanlah untuk dirimu. Ia berkata lagi; aku masih punya lagi. Beliau bersabda; sedekahkanlah untuk anakmu. Ia berkata: aku masih punya lagi. Beliau bersabda: sedekahkanlah untuk istrimu. Ia berkata: aku masih punya lagi. Beliau bersabda: sedekahkanlah untuk pembantumu. Ia berkata: aku masih punya lagi. beliau bersabda: engkau lebih tau itu.” (HR. Abu Dawud dan dihassankan oleh Al-Albani) sesungguhnya memberi nafkah ini adalah muwasah maka tidak wajib atas orang yang membutuhkan (miskin) sebagaimana zakat.
Ketiga, orang yang menafkahi adalah warisnya. Karena antara yang diwarisi dan mewarisi ada hubungan kekerabatan maka keberadaan waris lebih berhak terhadap harta orang yang diwarisi dari sekalian manusia maka selayaknya ia berkekhususan untuk menafkahinya daripada selainnya. Hal ini didasarkan kepada firman Allah Ta’ala,
وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ
“Dan waris pun berkewajiban demikian.” (QS. Al-Baqarah: 233)
Di sini perlu dicatat, bahwa jika misalnya orang tua mampu sehingga ia tidak diwajibkannya memberi nafkah untuk orang tua yang berkecukupan bukan berarti si anak tidak dianjurkan untuk memberikan sesuatu dari hartanya kepada orang tuanya. Ia tetap dianjurkan untuk memberi hadiah, oleh-oleh, atau jatah bulanan sebagai kesempurnaan ihsan (berbuat baik) kepada keduanya walau kedua tidak betul-betul membutuhkannya. Kecuali orang tuanya yang menolak karena kasihan kepada anaknya atau supaya disalurkan kepada yang lebih membutuhkan. Wallahu Ta’ala A’lam.
(Lupa link nya)